
Proses dan tahapan uji kosmetik pada hewan telah menjadi andalan dunia hingga sekarang. Sebenarnya pertama kali tercipta tepatnya pada 1920-an. Lalu berlanjut pada 1950-an menggunakan kelinci yang berlangsung hingga sekarang.
Prosedur atau eksperimen yang terjadi sebenarnya tidak sembarangan. Apalagi perlu mengikuti peraturan atau ketentuan yang berlaku sehingga tidak menyalahi hukum. Kemudian tidak ada yang merasa rugi sampai eksperimen selesai.
Fakta Uji Kosmetik Pada Hewan yang Menjadi Andalan Testing
Menggunakan hewan dari manusia tentu lebih aman karena tidak berbahaya. Kosmetik dapat tercipta dengan aman berdasarkan penelitian dan tes. Berikut beberapa fakta menarik tentang pengujian kosmetik dengan hewan:
- Jenis Hewan Dalam Pengujian
Binatang terbaik untuk mengetes suatu produk kosmetik tentu tidak sembarangan. Umumnya memanfaatkan kelinci, marmut, tikus hingga mencit. Dalam beberapa kasus, ada juga produsen yang memanfaatkan anjing untuk testing.
Dalam rangka uji kosmetik pada hewan melakukan berbagai cara. Tapi paling umum tes iritasi kulit dan mata dengan cara menggosokkan atau meneteskan. Tujuannya agar mengetahui apakah produk bisa menyakiti manusia.

Selain itu dapat melakukan tes dengan memberi zat kimia menggunakan dosis tertentu pada tikus. Prosesnya bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Apabila tidak terdapat masalah, artinya keamanannya terbukti.
- Zat Dalam Pengujian
Keamanan dan hukum perlu detail sehingga testing terlaksana dengan cara yang ketat. Anda bisa menemukan penggunaan zat tertentu dalam pengembangan bahan baru. Identifikasi potensi berbahaya perlu terselenggara dengan teliti.
Saat uji kosmetik pada hewan, umumnya bisa melakukannya dengan produk jadi. Tentu seringkali dilengkapi dengan pewarna atau pengawet dalam produknya. Tidak heran membutuhkan proses penelitian sehingga membuktikan keamanan tersebut.
Produsen perlu memberi informasi mengenai semua zat dalam produk baru. Pengujian bahan kimia bisa memanfaatkan binatang atau alternatif sesuai dengan kebutuhan. Informasi keselamatan harus Anda peroleh sehingga terbukti aman.
- Jumlah Hewan dan Dampaknya
Pada dasarnya uji kosmetik pada hewan telah menjadi andalan bagi banyak produsen berbagai negara. Menurut penelitian, setidaknya ada 300.000 hewan mengikuti testing. Tapi data tersebut hanya berasal dari negara Tiongkok.
Kalau melihat data global, kemungkinan jauh lebih banyak. Banyaknya jumlah binatang ini wajar melihat kewajiban tidak ada masalah pada semua hewan. Tentu tidak boleh memiliki masalah jangka pendek dan panjang.
Dampak pada setiap binatang bisa berbeda sehingga harus memastikan keamanan terbukti. Nantinya akan melakukan pencatatan sehingga berdasarkan penelitian resmi. Kemudian setelah memastikan keamanannya dapat lolos menuju pasaran.
- Peraturan Indonesia dan ASEAN
Melakukan uji kosmetik pada hewan menjadi perhatian negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Bahkan membuat aturan untuk menyelaraskan semua produk kosmetik. Tujuannya agar bisa mengurangi hambatan dan aturannya sama.
Keamanan produk menjadi perhatian sehingga muncul perjanjian pada tahun 2008. Tanggung jawab membuat produk aman harus terjamin sebelum pemasaran. Tapi tidak menjelaskan metode yang harus produsen laksanakan untuk membuktikan.
Artinya pengujian menjadi tanggung jawab bagi produsen itu sendiri. ASEAN tidak melarang pengujian terhadap binatang karena bukan prioritas utama. Meski begitu tetap memberi kewajiban ada informasi jika ada pengujian tersebut.
- Peraturan Global
Untuk peraturan global tidak mewajibkan menggunakan binatang sebagai media tes. Ada beberapa negara yang telah melarang melakukannya karena anggapan menyakiti binatang. Artinya perlu mengikuti aturan dan hukum setiap negara.
Produsen yang melakukan uji kosmetik pada hewan harus secara efektif dan efisien. Apalagi tujuan awalnya untuk membuktikan keamanan bahan atau produk kosmetik tersebut. Lalu bisa memasarkan karena mendapatkan jaminan keamanan.
- Bagaimana Mengetahui Kosmetik Dengan Pengujian Hewan
Saat ini Anda dapat menemukan produk kosmetik dengan cara testing berbeda-beda. Untuk menemukan produk yang menggunakan binatang tentu tidak sulit. Anda bisa melihatnya dari sertifikat penggunaan hewan atau alternatif lainnya.
Tidak sedikit orang yang menginginkan produk harus memiliki sertifikat bebas kekejaman. Artinya tidak ada pengujian menggunakan binatang pada produk jadi atau bahannya. Pemantauan praktek pengujian dan pemasokan bahan lebih tertata.
Produsen banyak yang memilikinya karena tuntutan dari konsumen itu sendiri. Tentu bisa menjadi pengakuan serangkaian standar terpenuhi secara hukum. Bahkan bisa memberikan dokumentasi tambahan sehingga memastikan kepatuhan tersebut.
Program sertifikasi sebenarnya memiliki database online sehingga dapat konsumen akses. Artinya bisa memindai serta mengecek sendiri bahan hingga proses pembuatan. Jadi, lebih mudah mengetahui uji kosmetik pada hewan dalam produk.
Jika Anda tertarik untuk mengakses informasi lebih lanjut mengenai uji lab, Anda bisa mengaksesnya di website kami https://ujilab.id/. Anda juga bisa klik link WhatsApp https://wa.me/6281212333590 (Maria) untuk terhubung langsung dengan tim kami.