Uji Laboratorium Tekstil Non Organik
Uji Laboratorium Tekstil Non Organik

Semua jenis produk yang bersentuhan dengan tubuh manusia harus melewati uji laboratorium tekstil non organik. Tujuannya untuk menjamin keamanan bahan dasar pada pakaian maupun tekstil untuk keperluan lainnya.

Uji laboratorium tekstil tersebut berkaitan dengan bagaimana pengendalian kualitasnya, keamanan, faktor maupun dampaknya ke lingkungan. Dengan begitu dapat diketahui hasil kualitas produk mulai dari bahan mentah sampai jadi.

Umumnya pengujian produk tekstil seperti kain, benang, pakaian, alas kaki, aksesori, trim, dan lain-lain. Pengujian tekstil harus sesuai penetapan standar terakreditasi seperti Organisasi Standar Internasional (ISO).

7 Jenis Uji Laboratorium Tekstil Non Organik

Proses uji tekstil perlu melalui beberapa standar pemeriksaan seperti peregangan, penggosokan, pencucian untuk memeriksa ada tidaknya kerusakan. Berikut 7 jenis uji laboratorium yang umum dilakukan untuk produk tekstil.

Uji Laboratorium Tekstil Non Organik
Uji Laboratorium Tekstil Non Organik
  1. Uji Pilling

Piling merupakan permasalahan yang kerap terjadi di kain pakaian atau benda lain dari bahan kain. Serat akan mengusut lalu membentuk bola-bola kecil pada permukaannya.

Jenis uji laboratorium tekstil non organik ini membantu mengetahui apakah tekstil tersebut tahan terhadap pilling. Tes pilling bertujuan menilai ketahanan kain terhadap aus dalam jangka waktu tertentu.

  1. Uji Tahan Luntur Warna

Warna yang mudah luntur pada tekstil biasanya karena faktor air, cahaya, udara, gesekan. Jenis uji ini memudahkan Anda menentukan jenis kain yang warnanya tahan lama serta cocok sebagai bahan produksi.

Biasanya uji laboratorium tekstil terkait ketahanan warna untuk crocking basah menggunakan ISO 105-B02. Sedangkan untuk pengujian tahan luntur faktor cahaya menggunakan ISO 105-X12.

  1. Uji Mudah Terbakar

Faktor yang diperiksa pada jenis uji laboratorium tekstil non organik ini meliputi bagaimana penyebaran api pada kain, sifat mudah terbakar, dan waktu pijarnya.

Ada beberapa jenis tekstil yang perlu melalui uji ketahanan terhadap api yaitu karpet, permadani, gorden, kain pelapis, dan piyama atau pakaian tidur.

  1. Kandungan Bahan Kimia

Jenis pengujian ini terkait kandungan bahan kimia dalam tekstil apakah membahayakan penggunanya. Contohnya zat ftalat, timbal, jenis pewarna (termasuk pengetesan perpindahan warna sekaligus ada tidaknya alergen pada kain).

  1. Kekuatan Tarik Ulur

Uji tarik ulur bertujuan mengetes kekuatan benang pada kain apakah mudah putus. Pada kain tenun, pengujian tarik ulurnya yaitu pada arah lungsin dan pakan.

Sedangkan kain rajut pengujiannya satu arah. Uji kekuatan tarik ulur juga berkaitan dengan kemampuannya tahan terhadap siklus pencucian, radiasi UV, sinar matahari, serta aus sehari-hari.

  1. Ketahanan Abrasi

Uji laboratorium tekstil non organik ketahanan abrasi untuk mengetahui apakah tekstil tahan terhadap gesekan atau goresan berulang kali. Penerapannya pada kain yang mudah rusak seperti tas, jaket, alas kaki, kain pelapis.

Jenis uji ketahanan abrasi paling umum adalah Tes Martindale, yaitu dengan menggosokkan sepotong kain yang diuji ke kain wol atau kapas.

  1. Kekuatan Ledakan

Bursting strength testing merupakan pengujian laboratorium untuk mengukur jumlah tekanan kain sebelum rusak. Pengetesan ini cocok untuk produk-produk yang titik tekanannya tinggi sehingga jahitannya harus sangat kuat seperti tas atau ransel.

Parameter untuk Uji Laboratorium Tekstil Non Organik

Pada proses pengujian laboratorium tersebut, teknisi harus memperhatikan parameter utama yang diterapkan ke semua jenis tekstil. Parameter ini untuk menilai integritas kain, tahan warna luntur dan aus.

  1. Stabilitas Dimensi

Umumnya protokol pengujian parameter stabilitas dimensi adalah ISO 5077 dengan melibatkan proses pemaparan tekstil pada kondisi berbeda. Prosesnya dengan membandingkan ukuran maupun bentuk tekstil sebelum dan sesudah tahap pencucian, panas, pelembapan.

  1. Konstruksi Kain

Parameter uji laboratorium tekstil non organik ini untuk mengidentifikasi konsisten tidaknya titik lemah atau tebal kain, bentuk, serta ukurannya. Metode pengujiannya yaitu PPI dan EPI.

PPI (Picks per Inch) bertujuan mengukur jumlah benang tiap incinya pada benang lungsin dan pakan. Sedangkan EPI (Ends per Inch) bertujuan mengujur jumlah benar tiap incinya pada benang lungsin maupun pakan.

  1. Ketahanan Luntur Warna

Parameter ini melibatkan kondisi tekstil sebelum melalui uji retensi warna karena terkena air, cahaya, ataupun detergen. Parameter ini penting agar produsen dapat mempertimbangkan ketahanan warna dan kecerahan bahan tekstilnya.

Uji laboratorium penting guna meningkatkan kualitas produk dengan mendeteksi sejak dini terkait kecacatan. Dengan begitu produsen maupun pengecer menjamin produknya memenuhi standar kualitas tertinggi melalui uji laboratorium tekstil non organik.

Jika Anda tertarik untuk mengakses informasi lebih lanjut mengenai uji lab, Anda bisa mengaksesnya di website kami https://ujilab.id/. Anda juga bisa klik link WhatsApp https://wa.me/6281212333590 (Maria) untuk terhubung langsung dengan tim kami.