Uji Laboratorium Tekstil Biologi
Uji Laboratorium Tekstil Biologi

Uji laboratorium tekstil biologi secara umum akan membahas tentang kinerja biologis pada bahan tekstil seperti ketahanan terhadap bakteriofag, impermeabilitas terhadap mikroorganisme, serta efisiensi penyaringan bakteri. Pengujian biologi sangat penting untuk memastikan kualitas bahan tekstil tetap baik, steril dan tahan terhadap bakteri. 

Tes pada bahan tekstil sangat penting karena memiliki fungsi untuk mengukur kualitas produk tersebut, serta memeriksa kepatuhan produsen terhadap aturan yang sudah ditentukan oleh pemerintah terkait.

Selain itu, pengujian laboratorium juga sangat penting untuk mengevaluasi kinerja dari bahan itu sendiri. Semua jenis tekstil seperti untuk medis, lantai, olahraga, pakaian anak-anak, hingga perabotan rumah tangga yang berbasis bahan tekstil juga.

Fungsi dari Uji Laboratorium Tekstil Biologi

Ada beragam macam tes pengujian dan teknik untuk bisa mengevaluasi mutu produk tersebut sudah memenuhi standar sudah ditentukan. Salah satu jenis pengujian tekstil yang paling penting adalah biologis.

Uji Laboratorium Tekstil Biologi
Uji Laboratorium Tekstil Biologi

Uji laboratorium tekstil biologi ini berfungsi untuk melakukan pengujian terkait ketahanan bahan terhadap bakteriofag, impermeabilitas terhadap mikroorganisme, serta menilai efisiensi penyaringan bakteri.

Mikroorganisme dapat mengubah komponen normal dari keringat manusia menjadi senyawa yang memiliki aroma bau tidak sedap. Jadi, pengujian ini akan membantu perusahaan untuk mengevaluasi tingkat aktivitas antimikroba dalam bahan baik sebelum dan sesudah pencucian.

4 Macam Uji Laboratorium Tekstil Biologi

Pengujian biologis pada kain bisa dilakukan dengan beragam macam metode. Berikut ini lima macam laboratorium tekstil secara bilogi yang paling umum digunakan oleh perusahaan.

  1. Tes Jaringan

Tes Jaringan merupakan metode pengujian pada POP2, Logam dan juga senyawa organik dalam sebuah jaringan. Beberapa senyawa dapat diuji pada tes jaringan antara lain PAH, Fenol, Nitrofenol, PBDE, Pestisida, Kloroanilin, Senyawa Organotin, logam, Anilin, Pestisida terklonirasi, Klorofenol dan masih banyak lagi. 

Prosedur yang harus dilalui saat melalukan uji lab ini memerlukan tes jaringan adalah mempersiapkan jaringan, dalam perisapan ini dibutuhkan subsampling representatif sebagai parameter analitik.

Langkah selanjutnya adalah analisis jaringan, sampelnya akan diekstraksi menggunakan teknik sonikasi agar bisa mengakomodasi massa sampel yang relatif lebih besar. Ekstraksi ini harus melalui pemurnian GPC dan florisil sebelum akhirnya dipisahkan agar menjadi analisi pestisida dan PCB Aroclor.

  1. Analisis AATCC

Pengujian AATCC biasanya digunakan untuk mengevaluasi keefektifan permukaan antibakteri yang ditambahkan ke dalam bahan kain. Dengan menggunakan uji laboratorium tekstil biologis AATCC bahan tidak berbentuk kain juga tetap bisa diuji dengan cara memodifikasi.

Dengan menggunakan pengujian AATCC, akan ada dua sampel yang diambil. Satu sampel diberikan perlakuan dan sampel kontrol atau sampel tidak diberikan perlakuan.

Pengujian akan menggunakan teknik kualitatif dan akan diuji bagaimana perkembangan aktivitas antibakteri yang terjadi. Sampel menunjukan aktivitas antibakteri akan dilakukan analisa secara kuantitatif atau menggunakan metode AATCC.

Dengan menggunakan metode AATCC, analisa akan dilakukan secara kuantitatif dengan menginokulasi sampel bahan dengan organisme yang telah diuji. Setelah melewati masa inkubasi, bakterinya akan dipisahkan.

Cara pemisahannya dilakukan dengan cara dikocong menggunakan larutan penetral. Bakteri dalam larutan penetral itu lalu dihitung dengan cermat menggunakan presentase pengurangan populasi bakteri.

  1. JIS L 1902

Metode ini sudah berstandar Jepang, gunanya untuk menguji aktivitas antibakteri dan kemanjuran para produk tekstil. Metode ini digunakan untuk menguji kemampuan kain jika diberikan bahan antimikroba sehingga perusahaan mengetahui cara mencegah pertumbuhan mikroba serta membunuhnya selama 18 tahun lamanya.

Ada total tiga jenis tes yang harus dilalui dalam uji laboratorium tekstil biologi JIS L 1902 ini, pertama kualitatif, kedua kuantitatif, serta yang terakhir adalah metode penyerapan. Tahapan JIS L 1902 sangat mirip dengan metode sebelumnya yaitu AATCC.

Mikroorganisme digunakan dalam pengujian ini dibuat dengan cara menumbuhkan dalam media kultur cair, mikroorganisme ini telah lulus distandarisasi sebelum digunakan dalam penelitian. Untuk memastikan mikroorganisme dapat memenuhi standar setelah adanya proses pengenceran dalam kaldu bergizi.

Kelebihan dari menggunakan JIS L 1902 adalah parameter metodenya diuraikan secara lebih hati-hati dibandingkan dengan teknik lain seperti aATTCC. 

  1. ISO 20743

Metode ini dikembangkan oleh organisasi standar internasional atau disingkat ISO. Dalam metode penelitian ini uji lab akan lebih fkus untuk memeriksa aktivitas antibakteri baik pada produk tekstil atau kain maupun bukan tenunan.

Metode ini sangat penting sebagai upaya untuk melindungi konsumen dari efek-efek negatif yang biasanya disebabkan oleh bakteri yang ada pada lapisan bahan atau pakaian. Ada tiga tahapan metode dalam ISO 20743 yaitu metode penyerapan, metode transfer dan metode percetakan.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk Anda melewatkan uji laboratorium tekstil biologi. Ini merupakan salah satu pengujian yang penting untuk memastikan produk tekstil akan dipasarkan aman.

Jika Anda tertarik untuk mengakses informasi lebih lanjut mengenai uji lab, Anda bisa mengaksesnya di website kami https://ujilab.id/. Anda juga bisa klik link WhatsApp https://wa.me/6281212333590 (Maria) untuk terhubung langsung dengan tim kami.