
Ada beberapa jenis pemeriksaan di laboratorium uji produk makanan yang mungkin jarang Anda ketahui. Perlu diketahui, dalam menguji sebuah bahan makanan, kita membutuhkan beberapa jenis pemeriksaan.
Dari beberapa jenis pemeriksaan itu, kita akan bisa tau apakah makanan tersebut aman atau tidak untuk dikonsumsi. Namun tidak hanya itu saja yang perlu Anda ketahui, Anda juga harus tau.
Sebenarnya apa peran dari lab pengujian produk makanan ini. Dan apa tujuan dilakukannya pengujian ini, kita akan membahasnya secara lengkap di dalam artikel kali ini.
Jenis Pemeriksaan di Laboratorium Uji Produk Makanan
Pada pembahasan pertama ini kita akan bahas beberapa jenis pemeriksaan di lab pengujian produk makanan. Beberapa jenis pemeriksaan yang perlu diketahui antara lain sebagai berikut :
- YM atau Yeast and Mold
Jenis pemeriksaan di laboratorium uji produk makanan yang pertama adalah YM atau Yeast and Mold. YM disebut sebagai angka kapang khamir untuk mengecek kualitas pangan.
Serta bahan pangan yang rawan ditumbuhi khamir dan kapang, antara lain seperti tepung-tepungan, serealia beserta olahannya. Kemudian roti dan juga produk bakery, lalu ada rempah bumbu beserta kondimennya.
Berikutnya ada teh dan juga kopi bubuk lau ada kembang gula atau permen, coklat dan sebagainya. Itulah berbagai macam jenis pemeriksaan YM atau Yeast and Mold yang perlu Anda ketahui.
- Total Plate Count atau TPC
Fungsi pemeriksaan Total Plate Count ini ialah untuk menunjukkan jumlah mikroba di dalam sebuah produk. Serta bermanfaat untuk menunjukkan kontaminasi, kualitas, dan juga status higienitas produk ketika proses produksi.
Pemeriksaan TPC ini dilakukan pada alat masak (swab), alat makan (swab) serta produk pangan lain. Di antaranya seperti pasta, mi dan juga produk sejenis, kemudian daging, daging unggas beserta olahannya
Lalu ikan beserta produk perikanan lain dan sebagainya. Jadi fungsi pemeriksaan TPC atau Total Plate Count adalah untuk itu, menunjukkan kontaminasi, kualitas, serta status higienitas suatu produk.
- Koliform
Koliform ialah mikroba indikator, yang keberadaannya untuk mengindikasikan adanya bakteri patogen lain. Pemeriksaannya menggunakan metode pour plate atau ISO 4832 :2006 yakni dengan teknik menghitung koloni.
Sesudah diinkubasi di media padat dengan suhu 30 atau 37°C, bahan pangan yang sering kali dilakukan pemeriksaan tersebut. Di antaranya seperti buah dan juga sayuran kering, acar beserta sayuran asin.
Kemudian ada pemeriksaan kualitas air minum di dalam kemasan. Lalu pasta, mi beserta produk sejenisnya dan sebagainya. jadi koliform ini untuk mengindikasi apakah terdapat bakteri pathogen lain di sana.
- E.coli
Strain patogen E.coli ini bisa mengakibatkan kasus diare berat sebab endotoksin yang dihasilkan. Pemeriksaan yang satu ini menggunakan metode MPN atau Most Probable Number (ISO 7251:2005).
Bahan pangan yang sering kali dilakukan pemeriksaan E.coli ini di antaranya seperti buah dan juga sayuran segar. Kemudian produk bakery, pasta, mie beserta produk sejenisnya.
Lalu ada daging, daging unggas beserta olahannya dan lain sebagainya. Dengan melakukan pemeriksaan yang satu ini, kita jadi tau apakah bahan pangan tersebut berbahaya atau tidak.
Peran dan Tujuan Pengujian di Laboratorium Uji Produk Makanan
Dalam penerapan SNI Wajib Pangan, sebuah lab uji makanan bisa dibilang mempunyai peran yang sangat penting. Sebab lab tersebut memang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian untuk menguji apakah makanan tersebut aman.
Selain itu laboratorium uji produk makanan juga mendukung jaminan keamanan nasional. Hingga berhasil memperoleh kepercayaan sebagai EXCL atau External Quality Control Laboratory untuk beberapa industri agro.
Perkembangan metode uji ini mendorong beberapa lab penguji agar bisa lebih inovatif dalam melakukan penelitian. Yakni di bidang pengujian untuk mendukung SNI bidang pangan, memperluas ruang lingkup.
Serta registrasi izin edar pangan olahan BPOM, pangan halal, informasi nutrisi produk dan tren pangan lain. Bila tadi peran, sekarang tujuannya, pertama untuk mengontrol kualitas produk.
Pada tahap sebelum, selama dan juga setelah proses produksi. Berikutnya untuk memenuhi peraturan pemerintah terkait keamanan pangan, lalu untuk memberikan informasi terkait produk, di antaranya angka kecukupan gizi.Kemudian bahan tambahan pangan, dan sebagainya. Lalu untuk penelitian beserta pengembangan produk dan untuk menjaga reputasi perusahaan beserta mereknya. Sehingga bisa dibilang pengujian makanan di laboratorium uji produk itu penting.
Jika Anda tertarik untuk mengakses informasi lebih lanjut mengenai Pemeriksaan di Laboratorium Uji Produk Makanan, Anda bisa mengaksesnya di website kami. Anda juga bisa klik link WhatsApp di sini untuk terhubung langsung dengan tim kami.